Follower Versus Leader Bangsa
Saiki jamane jaman edan, sing sopo ora melu edan… yo wis ketinggalan !!!
Seakan celotehan di atas hanyalah ucapan hiburan belaka atawa intermezo. Tapi kalau kita cermati dan renungkan secara tenang, kita pasti akan menganggukkan kepala tanda setuju, dan mau idak mau kita akan mengomentari celotehan tadi.
Lumrah memang, kalau kita sebagai bangsa yang selalu mengikuti “Follower”, pasti akan tergiur atau bahkan mengharapkan hal-hal yang baru yang datang dari luar. Ups, knapa ya…? padahal negara kita ini negara yang kaya akan jumlah rakyatnya, utangnya, korupnya, moralnya, dll. Sehingga kalau kita tidak mengikut bangsa lain yang maju, maka kita seolah-olah akan terlindas oleh mereka atau bahkan nama Indonesia hanya tinggal nama saja. Wuih, pasti kita tidak akan rela, sehingga kita mending jadi follower saja, tul gak?
Leader? Sepetinya kata tersebut belum bisa diterima oleh bangsa kita, karena kita sudah terbiasa dengan follower yang terasa enak untuk dinikmati. Sementara leader seolah-olah adalah jamu pahit atau gunung penuh rimba yang belum tentu bermanfaat bagi kita.
Pertanyaannya, pernahkah bangsa kita merasakan menjadi Leader ? Hanya waktu, dan kekayaan yang kita miliki yang bisa menjawabnya.
Bye…
-
Arsip
- Januari 2008 (2)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS